Pergerakan Thawaf Dan Fenomena Alam Semesta

“Mengerjakan Haji adalah kewajiban Manusia terhadap Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barang siapa kafir, sesungguhnya Allah Mahakaya dari seluruh Alam Semesta” (Ali Imron : 97)

“Thawaf disekitar Baitullah adalah seperti Shalat, hanya saja kalian boleh berbicara, hendaklah ia tidak berbicara kecuali yang baik-baik” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam Islam, ketika seseorang sedang thawaf di sekitar kaabah, maka ia memulai dari Hajar Aswad, dan gerakannya harus berlawanan dengan arah jarum jam.
Hal itu adalah penting mengingat segala sesuatu di alam semesta dari atom hingga galaksi itu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.


alam semesta bertawaf1 Pergerakan thawaf dan fenomena alam semesta

Begitu juga peredaran darah manusia mulai gerakan berlawanan dengan arah jarum jamnya. Perputaran bumi pada porosnya dan di sekeliling matahari juga secara berlawanan dengan arah jarum jam.


Pergerakan thawaf dan fenomena alam semesta

Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan Kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran”. (QS. An Fusilat : 53)

Matahari dengan semua sistemnya mengelilingi suatu titik tertentu di dalam galaksi dan semuanya berputar berlawanan dengan arah jarum jam.

Sementara itu, jika dilihat orang-orang yang thawaf di sekeliling kaabah tidak putus-putus sepanjang masa mengelilingi kaabah, siang dan malam berterusan tidak henti-hentinya, sampai ke akhir zaman.

Ini membuktikan kota Mekah adalah kota suci tertua dan sebagai simbol tamadun peradaban umat manusia serta ibadah dan sebagai pusat bumi atau dunia seperti direkamkan dalam al-Quran dan hadis-hadis Nabi SAW.sumber
Baca Lagi Ah !»

Ditemukan, Gambaran Masa Depan Tata Surya

Kepler temukan dua buah planet di dekat bintang yang telah melewati fase red giant.

Kedua planet ditemukan berada sangat dekat dengan bintang yang telah melewati fase red giant. (newscientist.com)


Pekan lalu marak diberitakan penemuan dua buah planet berukuran serupa Bumi oleh Kepler, teleskop ruang angkasa milik NASA. Ternyata, Kepler juga menemukan planet serupa yang tidak mendapat perhatian sebesar Kepler-20e dan Kepler-20f.


Berbeda dengan kedua planet sebelumnya, dua planet ini, yakni KOI 55.01 dan KOI 55.02 mengorbiti bintang KOI 55. Bintang ini merupakan bintang berkategori subdwarf B yang artinya ia merupakan bintang yang merupakan sisa dari inti sebuah bintang merah raksasa.


Kedua planet itu juga mengorbit sangat dekat dengan mataharinya itu. Kemungkinan, mereka terhisap mendekat saat bintang itu mencapai tahap red giant phase namun berhasil selamat (meski menjadi kering kerontang). Dimensinya sendiri tinggal 0,76 dan 0,87 kali Bumi dan menjadi exoplanet terkecil yang diketahui mengorbiti sebuah bintang aktif.

“Saat bintang membengkak dan menelan planet, planet-planet itu terseret mengikuti arus melalui atmosfir panas milik bintang dan menyebabkan gesekan saat para planet berputar-putar semakin dekat ke bintang itu,” kata Elizabeth Green, astronom dari University of Arizona.

Dikutip dari Universe Today, 27 Desember 2011, saat fenomena itu berlangsung, planet itu membantu melucuti atmosfir milik bintang. “Di saat yang sama, gesekan membuat lapisan gas dan cair milik planet itu terlepas dan menyisakan sebagian inti padat milik planet tersebut,” ucap Green.

Menurut peneliti, Matahari kita akan mengalami nasib serupa dengan KOI 55 dalam beberapa miliar tahun ke depan. Diperkirakan, saat membengkak, Matahari akan menelan Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

“Saat Matahari kita menjadi bintang merah raksasa, ia akan menelan Bumi. Dan jika planet kerdil seperti Bumi menghabiskan waktu 1 miliar tahun di lingkungan seperti itu, planet Bumi akan menguap,” kata Green. “Hanya planet dengan massa yang jauh lebih besar dari Bumi seperti Jupiter atau Saturnus saja yang kemungkian akan selamat,” ucapnya.

Green menyebutkan, temuan adanya planet yang telah selamat dari fase bintang yang mengembang lalu mengempis itu dapat membantu para ilmuwan untuk memahami lebih baik akan nasib sistem-sistem planet yang ada di jagat raya, termasuk sistem tata surya kita.
Baca Lagi Ah !»

Wujud Neraka Jahanam


Pernahkah kita membayangkan seperti apa keadaan isi neraka di hari kiamat kelak?
Sungguh tak sanggup membayangkan keadaan sesungguhnya seperti apa neraka itu sesungguhnya. Amat Agung Allah SWT, menciptakan keadaan Neraka Jahanam dan hari kiamat dalam beberapa Kitab untuk dijatuhkan peringatan terhadap orang-orang yang berakal.

Adapun sifat-sifat neraka Jahanam (semoga Allah menjaga kita dari siksa-Nya) telah diriwayatkan hadist : "sesungguhnya neraka jahanam amatlah gelap, tidak bercahaya dan hanya api yang menerangi. Didalamnya terdapat tujuh pintu : tiap pintunya ada 70.000 gunung, di tiap gunung 70.000 lereng yang terbuat dari api, dan disetiap belahan lerengnya 70.000 lembah dari api, ditiap lembahnya ada 70.000 gedung dari api. Didalam tiap gedung api terdapat 70.000 kamar api, didalam setiap kamarnya ada 70.000 ular dan 70.000 kalajengking. Tiap-tiap

jadi jika anda membayangkan apakah semua umat manusia dari tahun 1 hingga saat ini bisa memenuhi neraka, tentu saja bisa. Anda tidak percaya?
mari kita hitung sama-sama...

- Neraka terdiri dari 7 pintu
- 1 Pintu terdiri dari 70.000 gunung = 7 X 70.000 = 490.000 gunung
- 1 Gunung terdiri dari 70.000 lereng = 490.000 x 70.000 = 34.300.000.000 lereng
- 1 Lereng terdiri dari 70.000 gedung = 34.300.000.000 x 70.000 = 240,1 triliun gedung
- 1 gedung terdiri dari 70.000 kamar api = 240,1 T x 70.000 =
dan seterusnya....hanya Allah yang Maha Tahu. ini berlaku hanya untuk satu pintu lho...

Jadi memang sudah Allah perhitungkan jumlah penduduk neraka di hari akhir nanti. Dan anda tahu jika penduduk bumi saat ini berjumlah 6,6 Milyar, jumlah ini tidak seberapa dengan jumlah tempat yang disediakan dalam neraka, masih sangat luas dan megah, luas muka bumi ini mungkin hanya setitiknya saja.

Dalam neraka Jahanam, ada jembatan yang sangat kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang, disana dilengkapi beberapa pengikat dan duri. Sedangkan manusia melewatinya laksana kilat menyambar dan angin yang hebat." (Al Hadist)

Ada yang bertanya kepada Ibnu Abbas ra. mengenai luas neraka Jahanam. Dia berkata : "Demi Allah! Aku tidak mengetahui berapa luasnya, namun ada berita kepada kami; "Sesunguhnya satu cuping telinga malaikat Zabaniah dan pundaknya berjarak 70 tahun perjalanan. Dan didalamnya mengalir jurang nanah dann darah."

Hadist Riwayat Imam Thabrani : "Sesungguhnya tebal tembok neraka sejauh 40 tahun perjalanan."

Diriwayatkan Imam Muslim, Nabi saw bersabda : "Sesungguhnya apimu (dibumi) adalah 1 : 7 panas api di neraka Jahanam. Sabda Nabi saw :"Sesungguhnya lebih panas dengan bandingan 69 bagian, semua seperti panasnya apimu."

Sabda Nabi saw "Pada hari kiamat akan diperlihatkan neraka Jahanam. Neraka Jahanam punya 70.000 kendali dan setiap kendalinya ditarik oleh 70.000 malaikat.



Hadist lain menjelaskan ;"Rasulullah saw pernah bersabda mengenai besarnya para penjaga Jahanam yang sudah disinggung dalam Firman Allah Ta'ala:
6
"......Sedang penjaganya para malaikat (yang besar lagi kasar....") (QS. 66 (At Thamrin :6)

"Setiap pundak malaikat sejauh 1 tahun perjalanan. Masing-masing malaikat punya kekuatan, kekuatan itu akan memukulkan ke dasar Jahanam sekali pukul sebanyak 70.000 kekuatan malaikat."

"Diatasnya ada sembilan belas (19 malaikat) penjaga." (QS.
Mudatstsiir 74:30)


Maksudnya adalah ke-19 malaikat itu adalah para pemimpin malaikat Zabaniah, bila tidak maka malaikat-malaikat neraka tidak akan mengetahui jumlahnya kecuali Allah SWT.

Jadi sudah bisa anda bayangkan betapa dashyatnya isi neraka? masih sukakah kita mempertanyakan keadaan dan bentuk neraka seperti apa? Jika masih ada waktu dan kesempatan untuk bertobat, maka lakukanlah segera, sebelum habis usiamu.
Metal Blogspot
Baca Lagi Ah !»

Orang Pertama Yang Masuk Surga


Cerita berikut ini adalah untuk kita teladani. Dikutip dari Buku "30 Kisah Teladan" karya KH. Abdurrahman Arroisi. Semoga bermanfaat!

Di muka surga kelak menurut Nabi SAW akan ada empat manusia yang hendak masuk surga lebih dahulu. Dasar manusia, mereka saling berebut siapa yang mula-mula berhak masuk surga pertama kali. Karena Malaikat Ridlwan tidak dapat mengambil keputusan, turunlah Malaikat Jibril yang ditugaskan menjadi hakim. Keempat manusia itu adalah pahlawan, orang kaya yang dermawan, haji mabrur, dan orang alim yang soleh.

Salah satu mereka dipanggil ke muka dan ditanya, "Dengan sebab apa engkau beruntung akan masuk surga tanpa disiksa?" Orang itu menjawab, "Saya seorang pahlawan yang mati syahid di medan perang karena membela agama." Jibril berkata, "Darimana kau tahu bahwa pahlawan yang mati syahid bakal masuk surga tanpa dihisab?" Pahlawan menjawab, "Dari orang alim." "Kalau begitu, jagalah akhlak yang baik. Biarkan orang alim masuk surga lebih dulu." Ucap Malaikat Jibril. Pahlawan itu pun menunduk menyadari ketidaksopanannya.

Lalu dipanggil pula haji mabrur, yang ikhlas dan tidak cacat dalam melaksanakan ibadahnya. Ia ditanya oleh Jibril, "Siapa Engkau? Dan apa amal baikmu di dunia hingga mau masuk surga lebih dulu?" Haji itu berkata, "Saya seorang haji yang mabrur. Sesuai dengan janji Rasulullah, tidak ada balasan yang setimpal bagi saya kecuali surga."

"Betul, begitulah janji Nabi sejalan dengan wahyu Allah. Tetapi , dari mana engkau tahu bahwa Rasulullah pernah berjanji begitu?"
"Dari guru saya, orang alim," sahut sang haji. "Dari orang alim katamu? Mengapa engkau tidak menjaga adab, membiarkan orang alim masuk surga dulu?" Haji itu pun mundur menginsyafi kekeliruannya.

Sesudah itu maju pula orang kaya yang dermawan, yang sebagian banyak hartanya disedekahkan di jalan kebaikan. "Engkau ingin yang pertama masuk surga?" tanya Jibril. "Benar. Saya mau masuk surga yang pertama kali karena hal itu merupakan hak saya."

"Apa yang kamu lakukan di dunia ketika engkau masih hidup hingga punya pendapat seperti itu?" tanya Jibril lagi. "Saya adalah seorang hartawan. Kekayaan saya itu saya dapatkan dari jalan yang halal, saya peroleh dengan kerja keras dan berhemat. Tetapi, sesudah terkumpul banyak, harta saya tidak saya pergunakan untuk foya-foya di tempat maksiat, dan tidak juga hanya saya belanjakan untuk diri sendiri serta keluarga saya, tetapi sebagian besar saya belanjakan untuk menolong masyarakat, untuk menunjang kebaikan dan berjuang di jalan Allah."

"Dari siapa engkau tahu bahwa semua yang engkau lakukaan itu akan diganjar dengan masuk surga tanpa diperiksa?" tanya Jibril bertanya cermat.
"Dari orang alim, guru saya." Jawab si hartawan.
"Dari orang alim?"
"Betul."
"Jadi, kenapa orang alim yang sudah mengajarkanmu dengan kebaikan dan kebenaran tidak kau biarkan masuk surga lebih dahulu sebagai tanda terima kasihmu kepadanya?"
"Maaf, saya tadi khilaf. Sekarang saya sadar. Saya rela masuk surga paling belakang. Biarlah yang alim itu yang pertama masuk surga."
"Nah, begitulah sepatutnya," ujar Malaikat Jibril.

Maka orang kaya itu segera mundur dan orang alim dipersilakan masuk surga lebih dahulu. Namun dasar orang alim yang soleh, ia tetap setia kepada ilmu yang didalaminya, yaitu harus mengalah dan berrendah hati. Dengan segala keilkhlasan orang alim itu berkata, "Maaf, Tuan-tuan. Maaf para Malaikat yang bijaksana. Sebagai orang alim saya tidak akan dapat belajar dan mengajar dengan tenang apabila tidak ada pahlawan yang rela mati syahid. Saya tidak akan memperoleh pahala yang terus menerus jika murid saya yang haji ini tidak mengamalkan ilmu saya secara benar. Dan saya, orang alim, dan dia pahlaawan, serta dia, haji mabrur, tidak akan dapat memperoleh keleluasaan beribadah serta mengajarkan ilmu saya apabila tidak ada kedermawanan orang kaya yang mau membiayai tentara berangkat perang, yang mau menyediakan kelapangan bagi perjalanan haji, yang mau membangun madrasah, tempat-tempat pengajian agama, penyantunan anak-anak yaatim, serta maacam-macam kebaikan lainnyaa. semua itu mustahil terwujud apabila tidak ada orang kaya yang dermawan. Karena itu, biarlah orang kaya ini yang masuk surga lebih dahulu, disusul oleh pahlawan, kemudian haji mabrur, dan izinkanlah saya masuk surga paling penghabisan."

Akhirnya diputuskan oleh Malaikat Jibril sebagaimana yang diusulkan oleh orang alim itu, yakni hartawan yang dermawan itulah yang masuk surga paling depan.
Metal Blogspot
Baca Lagi Ah !»

Mengapa Wanita Menjadi Penghuni Neraka Terbanyak



Merupakan satu anugerah dari Allah, ketika seorang wanita dipertemukan dengan pasangan hidupnya dalam satu jalinan kasih yang suci. Hal ini sebagai satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Sang Khaliq.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". (Ar-Rum: 21)
Apatah lagi bila pendamping hidup itu seorang yang shalih, yang akan memuliakan istrinya bila bersemi cinta di hatinya, namun kalau toh cinta itu tak kunjung datang maka ia tak akan menghinakan istrinya.
Merajut dan menjalin tali pernikahan agar selalu berjalan baik tidak bisa dikatakan mudah bak membalik kedua telapak tangan, karena dibutuhkan ilmu dan ketakwaan untuk menjalaninya. Seorang suami butuh bekal ilmu agar ia tahu bagaimana menahkodai rumah tangganya. Istripun demikian, ia harus tahu bagaimana menjadi seorang istri yang baik dan bagaimana kedudukan seorang suami dalam syariat ini. Masing-masing punya hak dan kewajiban yang harus ditunaikan agar jalinan itu tidak goncang ataupun terputus.
Syariat menetapkan seorang suami memiliki hak yang sangat besar terhadap istrinya, sampai-sampai bila diperkenankan oleh Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan memerintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.
Abdullah ibnu Abi Aufa bertutur: Tatkala Mu'adz datang ke negeri Yaman atau Syam, ia melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada para panglima dan petinggi gereja mereka. Maka ia memandang dan memastikan dalam hatinya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang paling berhak untuk diagungkan seperti itu. Ketika ia kembali ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata: "Ya Rasulullah, aku melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada para panglima dan petinggi gereja mereka, maka aku memandang dan memastikan dalam hatiku bahwa engkaulah yang paling berhak untuk diagungkan seperti itu." Mendengar ucapan Mu'adz ini, bersabdalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
لَوْ كُنْتُ آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ َأنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَلاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ الله عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا كُلَّهُ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا عَلَيْهَا كُلَّهَا حَتَّى لَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَىظَهْرِ قَتَبٍ لأَعْطَتْهُ إِيَّاهُ
"Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain (sesama makhluk) niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Azza wa Jalla terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya terhadapnya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya bersenggama) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak)." (HR. Ahmad 4/381. Dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Ash-Shahihul Jami' no. 5295 dan Irwa Al-Ghalil no. 1998)
Satu dari sekian hak suami terhadap istrinya adalah disyukuri akan kebaikan yang diperbuatnya dan tidak dilupakan keutamaannya.
Namun disayangkan, di kalangan para istri banyak yang melupakan atau tidak tahu hak yang satu ini, hingga kita dapatkan mereka sering mengeluhkan suaminya, melupakan kebaikan yang telah diberikan dan tidak ingat akan keutamaannya. Yang lebih disayangkan, ucapan dan penilaian miring terhadap suami ini kadang menjadi bahan obrolan di antara para wanita dan menjadi bahan keluhan sesama mereka. Padahal perbuatan seperti ini menghadapkan si istri kepada kemurkaan Allah dan adzab yang pedih.
Perbuatan tidak tahu syukur ini merupakan satu sebab wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, sebagaimana diberitakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seselesainya beliau dari Shalat Kusuf (Shalat Gerhana):
أُرِيْتُ النَّارُ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَ يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ, لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
"Diperlihatkan neraka kepadaku. Ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur ." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka satu masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata: Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Al-Qadhi Ibnul 'Arabi rahimahullah berkata: "Dalam hadits ini disebutkan secara khusus dosa kufur/ingkar terhadap suami di antara sekian dosa lainnya karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menyatakan: Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain (sesama makluk) niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggandengkan hak suami terhadap istri dengan hak Allah, maka bila seorang istri mengkufuri/mengingkari hak suaminya, sementara hak suami terhadapnya telah mencapai puncak yang sedemikian besar, hal itu sebagai bukti istri tersebut meremehkan hak Allah. Karena itulah diberikan istilah kufur terhadap perbuatannya akan tetapi kufurnya tidak sampai mengeluarkan dari agama." (Fathul Bari, 1/106)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengisahkan:
قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِيْنُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوْسُوْنَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
"Aku berdiri di depan pintu surga, ternyata kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin, sementara orang kaya lagi terpandang masih tertahan (untuk dihisab) namun penghuni neraka telah diperintah untuk masuk ke dalam neraka , ternyata mayoritas yang masuk ke dalam neraka adalah kaum wanita." (HR. Al-Bukhari no. 5196 dan Muslim no. 2736)
Pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat. Setelahnya beliau berkhutbah dan ketika melewati para wanita beliau bersabda: "Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun) karena sungguh diperlihatkan kepadaku mayoritas kalian adalah penghuni neraka." Berkata salah seorang wanita yang cerdas: "Apa sebabnya kami menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya namun dapat menundukkan lelaki yang memiliki akal yang sempurna daripada kalian." Wanita itu bertanya lagi: "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan kurang agama?". "Adapun kurangnya akal wanita ditunjukkan dengan persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki. Sementara kurangnya agama wanita ditunjukkan dengan ia tidak mengerjakan shalat dan meninggalkan puasa di bulan Ramadhan selama beberapa malam (yakni saat ditimpa haidh)." (HR. Al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79)
Karena mayoritas kaum wanita adalah ahlun nar (penghuni neraka) maka mereka menjadi jumlah yang minoritas dari ahlul jannah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam nyatakan hal ini dalam sabdanya:
إِنَّ أَقَلُّ سَاكِنِي الْجَنَّة النِّسَاءُ
"Minoritas penghuni surga adalah kaum wanita." (HR. Muslim no. 2738)
Bila demikian adanya tidak pantas bagi seorang wanita yang mencari keselamatan dari adzab untuk menyelisihi suaminya dengan mengkufuri kenikmatan dan kebaikan yang telah banyak ia curahkan ataupun banyak mengeluh hanya karena sebab sepele yang tak sebanding dengan apa yang telah ia persembahkan untuk anak dan istrinya. Sepatutnya bila seorang istri melihat dari suaminya sesuatu yang tidak ia sukai atau tidak pantas dilakukan maka ia jangan mengkufuri dan melupakan seluruh kebaikannya. Sungguh, bila seorang istri tidak mau bersyukur kepada suami, sementara suaminya adalah orang yang paling banyak dan paling sering berbuat kebaikan kepadanya, maka ia pun tidak akan pandai bersyukur kepada Allah ta`ala, Dzat yang terus mencurahkan kenikmatan dan menetapkan sebab-sebab tersampaikannya kenikmatan pada setiap hamba.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyampaikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ لاَ يَشْكُرِ اللهَ
"Siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah." (HR. Abu Dawud no. 4177 dan At-Tirmidzi no. 2020, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di atas syarat Muslim, dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/338)
Al-Khaththabi berkata: "Hadits ini dapat dipahami dari dua sisi.
Pertama: orang yang tabiat dan kebiasaannya suka mengingkari kenikmatan yang diberikan kepadanya dan enggan untuk mensyukuri kebaikan mereka maka menjadi kebiasaannya pula mengkufuri nikmat Allah ta`ala dan tidak mau bersyukur kepada-Nya.
Sisi kedua: Allah tidak menerima rasa syukur seorang hamba atas kebaikan yang Dia curahkan apabila hamba tersebut tidak mau bersyukur (berterima kasih) terhadap kebaikan manusia dan mengingkari kebaikan mereka, karena berkaitannya dua perkara ini." ('Aunul Ma'bud, 13/114)
Adapun Al-Qadhi mengatakan tentang hadits ini: "(Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan demikian) bisa jadi karena mensyukuri Allah ta`ala hanya bisa sempurna dengan patuh kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sementara di antara perkara yang Dia perintahkan adalah berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara tersampaikannya nikmat-nikmat Allah kepadanya. Maka orang yang tidak patuh kepada Allah dalam hal ini, ia tidak menunaikan kesyukuran atas kenikmatan-Nya. Atau bisa pula maknanya, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia yang telah memberikan dan menyampaikan kenikmatan kepadanya, padahal ia tahu sifat manusia itu sangat senang mendapatkan pujian, ia menyakiti si pemberi kebaikan dengan berpaling dan mengingkari apa yang telah diberikan, maka orang seperti ini akan lebih berani meremehkan sikap syukur kepada Allah, yang sebenarnya sama saja bagi-Nya antara kesyukuran dan kekufuran ." (Tuhfatul Ahwadzi, 6/74).
Sepantasnya bagi seorang istri yang mencari keselamatan dari adzab Allah untuk mencurahkan seluruh kemampuannya dalam menunaikan hak-hak suami, karena suaminya adalah jembatan untuk meraih kenikmatan surga atau malah sebaliknya membawa dirinya ke jurang neraka. Al-Hushain bin Mihshan radliallahu anhu menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena satu keperluan dan setelah selesai dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya:
أَ ذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنارُكِ
"Apakah engkau sudah bersuami?" Bibi Al-Hushain menjawab: "Sudah." "Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?" tanya Rasulullah lagi. Ia menjawab: "Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu." Rasulullah bersabda: "Lihatlah di mana keberadaanmu saat bergaul dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu." (HR. Ahmad 4/341. Berkata penulis Jami' Ahkamin Nisa: hadits ini hasan, 3/430)
Saudariku, janganlah engkau sakiti suamimu dengan tidak mensyukuri apa yang telah diberikannya. Ingatlah, suamimu hanya sementara waktu menemanimu di dunia, kemudian dia akan berpisah denganmu dan berkumpul dengan para bidadari surga yang murka kala engkau menyakitinya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan hal ini dalam sabdanya:

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهَا مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ: لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللهُ, فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ, يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
"Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia kecuali berkata hurun `in (bidadari-bidadari surga) yang menjadi istri si suami di surga: "Jangan engkau menyakitinya qatalakillah , karena dia di sisimu hanyalah sebagai tamu dan sekedar singgah, hampir-hampir dia akan berpisah denganmu untuk bertemu dengan kami." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah no. 204. Berkata penulis Bahjatun Nazhirin: Sanad hadits ini shahih, 1/372)
Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.
Metal Blogspot
Baca Lagi Ah !»
Copyright 2011 Metal Blogspot - Template by Kautau Dot Com - Editor premium idwebstore